Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menegaskan pentingnya peran terumbu karang sebagai ekosistem vital bagi laut. “Terumbu karang bukan hanya rumah bagi beragam spesies laut, namun juga penjaga keseimbangan ekosistem dan pelindung garis pantai,” ungkapnya.
Proses pelepasliaran melibatkan berbagai pihak, termasuk mitra koral Seksi KSDA Wilayah IV, UD. ABS dan PT. Dinar Darum Lestari unit Sumenep, serta dukungan dari Polairud Polda Jawa Timur dan Pos Jaga Kalianget – Sumenep. Kerja sama ini memastikan setiap terumbu karang, terdiri dari jenis Anemon, Donat, dan Batu hiu, ditempatkan dengan hati-hati pada rak-rak yang telah disiapkan di lokasi transplantasi.
Upaya Rehabilitasi dan Konservasi Jangka Panjang
“Pelepasliaran ini bukan hanya tindak lanjut penggagalan penyelundupan, tetapi juga bagian dari program rehabilitasi dan konservasi jangka panjang Balai Besar KSDA Jawa Timur,” jelas Nur Patria Kurniawan. Program ini bertujuan memulihkan ekosistem laut yang rusak dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga terumbu karang.
Pulau Gili Labak dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena kondisinya yang ideal untuk transplantasi terumbu karang. Diharapkan, terumbu karang yang dilepasliarkan dapat tumbuh subur, menambah keindahan, dan memperkaya keanekaragaman hayati di perairan sekitar pulau ini.
“Kami berharap upaya ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kelestarian lingkungan laut,” tambah Nur Patria Kurniawan. “Mari bersama-sama menjaga kekayaan laut kita untuk generasi mendatang.”
Dengan semangat konservasi dan kolaborasi yang kuat, pelepasliaran terumbu karang di Pulau Gili Labak menjadi langkah nyata dalam pelestarian lingkungan laut Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur.













