Prevalensi Stunting di Serdang Bedagai Turun Drastis ke 14,4 Persen, Tertendah Ke-8 di Sumut
Sei Rampah, Kompas – Upaya keras Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) dalam mengatasi stunting menuai hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting di Sergai turun drastis ke angka 14,4 persen, menjadikannya daerah dengan angka stunting terendah ke-8 di Sumatera Utara (Sumut).
Pencapaian ini merupakan hasil kerja sama Pemkab Sergai dan berbagai pihak terkait dalam menangani permasalahan gizi buruk pada anak. “Alhamdulillah, angka prevalensi stunting di Kabupaten Sergai mengalami penurunan yang sangat drastis,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Sergai, H. Adlin Tambunan, di ruang kerjanya, Komplek Kantor Bupati Sergai, Sei Rampah, Jumat (3/5/2024).
Penurunan prevalensi stunting di Sergai terbilang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting di Sergai masih mencapai 21,1 persen.
“Hasil SKI 2023 menunjukkan penurunan besar di angka 14,4 persen atau turun sebanyak 6,7 persen,” jelas Adlin Tambunan yang juga merupakan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Sergai.
Capaian ini mengantarkan Sergai menduduki peringkat kedelapan kabupaten/kota dengan angka stunting terendah di Sumut, melampaui target daerah 18 persen untuk tahun 2023. Bahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Sergai menargetkan prevalensi stunting bisa turun hingga 14 persen pada tahun 2024 ini.
“Untuk 2025 kita menargetkan stunting bisa menyusut hingga 12 persen dan hingga akhir periode RPJMD yaitu 2026 angka stunting ditargetkan hanya pada angka 10 persen,” kata Adlin.
Upaya Komprehensif dan Konvergensi
Wabup Sergai menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Sergai untuk mempercepat pencegahan dan penanggulangan stunting. Upaya tersebut dilakukan dengan pendekatan komprehensif, menangani penyebab langsung dan tidak langsung stunting melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif.
Intervensi spesifik dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang sehat dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan stunting. Sedangkan intervensi sensitif menyasar langsung ibu hamil dan balita gizi buruk, gizi kurang, dan balita stunting.
Berbagai program konvergensi pun dijalankan Pemkab Sergai untuk menurunkan angka stunting, melibatkan lintas sektoral dan swasta melalui mekanisme CSR. “Pemkab Sergai mengimplementasikan beberapa program, di antaranya DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), program pembinaan pranikah, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, pemberian ASI eksklusif, dan lain sebagainya,” tutur Adlin.
Meskipun penuh tantangan, Adlin optimis bahwa upaya pencegahan dan intervensi stunting yang dilakukan, baik jangka pendek maupun panjang, akan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan penurunan prevalensi stunting di Sergai.













